Rechercher dans ce blog

Tuesday, August 17, 2021

2 Skenario Saham Bukalapak dan Saran untuk Investor Ritel Rabu, 18 Agustus 2021 - Investor Daily

JAKARTA, investor.id – Harga saham PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) terus turun bahkan auto reject bawah (ARB) dalam beberapa hari terakhir. Pada perdagangan Senin (16/8), BUKA ditutup pada harga Rp 890 atau mendekati harga perdana Rp 850. Investor ritel pun menjerit. Ada dua skenario terkait harga saham all-commerce ini, termasuk saran untuk para investor ritel.

Harga saham Bukalapak sempat mencapai level tertinggi Rp 1.325, dengan nilai kapitalisasi pasar (market cap) sebesar Rp 136,5 triliun atau di posisi 11. Namun, pada perdagangan Senin (16/8), market cap Bukalapak longsor menjadi Rp 91,7 triliun atau di posisi 16. Aksi profit taking menyebabkan market cap perusahaan berstatus unicorn itu terpangkas Rp 44,8 triliun.

Direktur Ekuator Swarna Investama Hans Kwee mengatakan, kemungkinan besar harga saham Bukalapak kembali anjlok, bahkan bisa di bawah harga perdana. Prediksi ini sejalan dengan antrean jual yang besar pada perdagangan Senin. “Saat ini, investor lebih rasional,” kata dia.

Menurut Hans, ada dua skenario yang akan terjadi pada perdagangan Rabu (18/8). Pertama, skenario terburuk harga saham Bukalapak kembali anjlok hingga ARB. Kedua adalah sebaliknya. Harga saham Bukalapak rebound, dengan potensi penguatan ke level Rp 950-1.000.

“Pemodal sebaiknya menunggu dulu apakah tekanan harga di saham ini terus berlanjut atau tidak. Saham ini lebih cocok untuk trader yang memang jangka pendek, sejalan dengan valuasinya yang cukup mahal,” jelasnya.

Sementara itu, analis Sucor Sekuritas Hendriko Gani juga menyarankan kepada pemodal untuk wait and see hingga tekanan jual pada saham Bukalapak mereda dan menunggu momentum untuk masuk.

“Saham Bukalapak sebetulnya memiliki potensi growth yang tinggi. Namun, karena industrinya relatif baru di Indonesia, serta masih membukukan net loss, saham ini memiliki risiko investasi yang cukup tinggi,” ungkap dia.

Saat ini, harga saham Bukalapak Rp 850 menjadi level support psikologis. “Ada potensi mendapat momentum beli di level itu,” ujar Hendriko.

Sebelumnya, GIC Private Limited membeli sebanyak 1,6 miliar saham Bukalapak atau setara 1,55% pada harga Rp 850 per saham. Nilai transaksi sekitar Rp 1,4 triliun. Setelah transaksi, kepemilikan saham sovereign wealth fund (SWF) milik Pemerintah Singapura tersebut di Bukalapak menjadi 11,33 miliar unit atau setara 11%.

GIC Private Limited adalah lembaga dana investasi Pemerintah Singapura (GOS) dan Otoritas Keuangan Singapura (MAS) yang memiliki anak usaha, Archipelago Investment Pte Ltd. “Aksi pembelian yang dilakukan Archipelago Investment untuk tujuan investasi,” papar manajemen GIC Private Limited dalam keterangan tertulis.

Menurut GIC, pembelian saham unicorn pertama yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) tersebut berlangsung pada 5 Agustus 2021. Artinya, GIC menambah kepemilikan saham sebelum Bukalapak mencatatkan sahamnya (listing) di BEI pada 6 Agustus 2021.

Adapun struktur pemegang saham Bukalapak terbaru setelah IPO adalah PT Kreatif Media Karya (KMK Online) yang merupakan anak usaha PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (Emtek), Ant Group’s API Investment Ltd, dan GIC, yang secara bersama-sama memegang 46% saham Bukalapak. Adapun Microsoft dan Mirae Asset memegang saham minoritas 2,7% di start-up teknologi unicorn tersebut.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Berita Terkait

Adblock test (Why?)


2 Skenario Saham Bukalapak dan Saran untuk Investor Ritel Rabu, 18 Agustus 2021 - Investor Daily
Read More

No comments:

Post a Comment

IHSG Menguat Tipis, Analis Soroti Empat Saham ini - KabarBursa.com

[unable to retrieve full-text content] IHSG Menguat Tipis, Analis Soroti Empat Saham ini    KabarBursa.com Volatilitas IHSG Tinggi, Anali...